Kunjungan Edukasi Arsitektur: Mahasiswa Arsitektur UIN Saizu Eksplorasi Desain Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja Purbalingga, Tingkatkan Wawasan Desain Historis

author-img En Hato November 20, 2025 No Comments

Prodi arsitektur UIN Saizu kembali menunjukkan komitmennya dalam mengintegrasikan teori dan praktik lapangan. Mahasiswa semester 5 Program Studi Arsitektur Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto melaksanakan kunjungan studi edukatif ke Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja di Purbalingga.

Kunjungan yang dilaksanakan tepat pada hari Kamis, 20 November 2025, ini dipimpin langsung oleh dosen pengampu mata kuliah, Ar. Fariz Nizar, M.Arch. IAI. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa untuk merasakan dan menganalisis desain sebuah bangunan museum, yang merupakan salah satu tipologi bangunan publik dengan tuntutan fungsionalitas dan estetika yang unik.

Memahami Museum: Laboratorium Desain di Tengah Sejarah

Bagi calon arsitek, sebuah museum tidak hanya dilihat sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, namun juga sebagai karya arsitektur yang kompleks. Museum harus mampu mengakomodasi sirkulasi pengunjung yang efisien, pencahayaan yang optimal untuk benda koleksi (terutama yang sensitif), pengendalian iklim mikro, serta narasi spasial yang mendukung pengalaman edukatif pengunjung.

“Kunjungan ini esensial, terutama untuk mahasiswa di tingkat semester lima yang mulai mendalami desain arsitektur dengan kompleksitas fungsi publik,” jelas Ar. Fariz Nizar. “Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja menawarkan studi kasus yang menarik, memadukan unsur historis dengan kebutuhan ruang pamer kontemporer. Mereka tidak hanya belajar tentang sejarah yang ada di dalam museum, tetapi juga tentang sejarah dan filosofi yang termuat dalam arsitekturnya itu sendiri.”

Kunjungan ini dirancang secara teknis agar para mahasiswa mendapatkan hasil pengamatan yang mendalam dan terstruktur, bukan sekadar jalan-jalan. Kegiatan dibagi menjadi beberapa tahapan utama:

1. Orientasi dan Pembekalan Awal

Setibanya di lokasi, mahasiswa menerima sesi orientasi singkat mengenai sejarah Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja, tokoh pendiri, serta konteks arsitektur bangunan tersebut. Hal ini penting agar pengamatan desain tidak terlepas dari konteks historis dan fungsional awal.

2. Observasi dan Analisis Spasial (Spatial Analysis)

Tahap inti ini melibatkan eksplorasi mendalam terhadap tata letak dan organisasi ruang (space planning). Mahasiswa didorong untuk mengamati:

  • Sirkulasi Pengunjung: Bagaimana jalur masuk, jalur keluar, dan alur pergerakan antar ruang pamer dirancang. Apakah sirkulasi ini efektif, bebas hambatan (accessible), dan mengarahkan pengunjung sesuai narasi pameran?

  • Hierarki Ruang: Identifikasi ruang utama (galeri permanen), ruang penunjang (loker, toko suvenir, kafe), dan ruang servis (kantor, penyimpanan koleksi). Analisis hubungan visual dan fungsional antar ruang tersebut.

  • Proporsi dan Skala: Pengamatan terhadap ketinggian langit-langit, dimensi ruang, dan bagaimana elemen-elemen ini memengaruhi persepsi pengunjung dan kenyamanan termal/visual.

3. Analisis Elemen Desain dan Material

Fokus pada detail arsitektur, Mahasiswa secara khusus melakukan pengamatan dan pencatatan terperinci mengenai:

  • Penggunaan Material Lokal: Identifikasi jenis-jenis material yang digunakan, baik pada fasad maupun interior. Apakah ada material lokal Purbalingga atau Jawa Tengah yang dominan? Bagaimana material ini merespons iklim tropis?

  • Pencahayaan Alami dan Buatan: Analisis cara arsitek memanfaatkan pencahayaan alami (daylighting) untuk mengurangi ketergantungan pada listrik, sekaligus melindungi koleksi dari paparan sinar UV yang merusak. Pengamatan terhadap tata letak lampu pamer (display lighting) dan intensitasnya.

  • Detail Fasad: Memeriksa elemen-elemen seperti jendela, pintu, dan ornamen bangunan. Apakah fasad mencerminkan fungsi bangunan sebagai museum ataukah mengadopsi gaya arsitektur kolonial/tradisional setempat?

4. Pengalaman Indrawi (Sensory Experience)

Arsitektur yang baik harus melibatkan seluruh indra. Mahasiswa diminta mencatat pengalaman indrawi mereka, termasuk:

  • Akustik Ruang: Bagaimana kualitas suara di dalam ruang pamer? Apakah ada gema? Apakah material yang digunakan membantu peredaman kebisingan dari luar?

  • Kenyamanan Termal: Pengamatan suhu dan kelembaban di dalam museum, yang sangat krusial untuk konservasi koleksi. Analisis sistem ventilasi dan pendingin udara (HVAC) jika ada.

  • Suasana (Aura): Menjelaskan emosi atau suasana yang ditimbulkan oleh ruang tersebut. Apakah ruang terasa tenang, megah, atau akrab?

5. Sesi Diskusi dan Review Lapangan

Kegiatan ditutup dengan diskusi kelompok dan review singkat di lokasi, dipimpin oleh Ar. Fariz Nizar. Setiap kelompok mempresentasikan temuan kunci mereka, membandingkan analisis spasial dan elemen desain, serta menyimpulkan pelajaran desain utama yang didapatkan.

Dampak Jangka Panjang pada Wawasan Desain Mahasiswa

Kunjungan ini bukan hanya sekadar pemenuhan kurikulum, melainkan investasi dalam peningkatan kualitas lulusan. Dengan melihat arsitektur dalam konteks nyata dan fungsional, mahasiswa dapat:

Meningkatkan Kepekaan Fungsional (Functionality Sensitivity)

Mereka belajar bahwa setiap keputusan desain—mulai dari posisi pintu hingga jenis lantai—memiliki konsekuensi fungsional yang serius, terutama dalam bangunan yang sensitif seperti museum.

Menguasai Konteks Lokal dan Iklim (Vernacular and Climate Design)

Purbalingga dengan iklim tropisnya menuntut solusi desain yang cerdas, seperti atap yang menjorok lebar, penggunaan ventilasi silang, dan pemilihan material yang sejuk. Mahasiswa dapat melihat implementasi prinsip desain iklim tropis secara langsung.

Integrasi Konservasi dan Desain Baru

Dalam kasus museum yang merupakan bangunan lama, kunjungan ini memberikan pelajaran tentang teknik konservasi arsitektur dan bagaimana arsitek modern dapat mengintegrasikan instalasi baru (misalnya, sistem keamanan atau teknologi pameran digital) tanpa merusak integritas struktur historis. Ini adalah isu krusial dalam dunia desain kontemporer.

“Ini jauh lebih berkesan daripada hanya melihat gambar di buku,” kata Nayla salah satu mahasiswa. “Merasakan skala ruang secara fisik, melihat bagaimana cahaya jatuh pada koleksi, dan memahami mengapa dinding ini terbuat dari batu tertentu; itu adalah pelajaran desain yang komprehensif. Kami melihat arsitektur sebagai sebuah narasi utuh.”