Budaya membaca sebagai fondasi berpikir kritis dan berbicara berintegritas menjadi fokus utama dalam gelaran Talkshow & Diskusi bertajuk “Membaca Sebelum Bicara” di Aula Lt. 2 Gedung D, Kampus 2 UIN Profesor K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) pada Selasa, 21 Oktober 2025. Mengangkat pesan kunci “Think before you speak, read before you think”, acara ini mengajak peserta untuk merefleksikan bahwa membaca adalah kebiasaan intelektual, bukan sekadar kewajiban akademik.
Moderator Dwipa Gunadharma memimpin diskusi yang menghadirkan dua tokoh literasi: Ibu Hikmandari, Owner Coffee At Home dan penggerak Book Talk Purwokerto, serta Yanwi Mudrikah, M.Pd., Dosen Bahasa Indonesia UIN Saizu Purwokerto.

Membaca sebagai Latihan Pikiran dan Daya Kritis
Dalam pemaparannya, para narasumber sepakat bahwa membaca adalah latihan bagi pikiran, serupa dengan olahraga bagi tubuh. Ibu Hikmandari menyoroti bahwa gagasan yang baik hanya akan lahir dari pemahaman yang utuh. “Karena sebelum kita bisa menyampaikan gagasan, kita perlu memahami lebih dulu dari mana gagasan itu berasal,” ujarnya, menekankan pentingnya membaca konteks.

Diskusi lebih lanjut membahas bahwa budaya membaca harus ditopang oleh lingkungan yang suportif, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas, hingga peran dosen sebagai tokoh literasi.
Tantangan Literasi di Tengah Arus Informasi Instan
Yanwi Mudrikah, M.Pd., menyoroti tantangan terbesar literasi di era digital saat ini. Media sosial, menurutnya, kerap menggeser perhatian dari bacaan bermakna ke konsumsi informasi instan. Fenomena ini memicu pertanyaan kritis: apakah kita membaca untuk memahami, atau sekadar membaca untuk bereaksi?
Melalui contoh kasus pemberitaan yang berbeda di berbagai platform, Yanwi menegaskan pentingnya kemampuan membaca kritis dan verifikasi informasi. “Berbicara tanpa membaca adalah kehilangan makna berpikir. Kita harus mampu membaca secara kritis sebelum menarik kesimpulan atau menyebarkan pendapat,” tegasnya.


Makna Filosofis ‘Iqra’ dan Integritas Berbicara
Di bagian akhir, materi diskusi menyentuh makna filosofis dari kata “Iqra” (bacalah) yang tidak hanya merujuk pada teks, tetapi juga meneliti, merenungkan tanda-tanda kehidupan, dan memahami pengetahuan sebagai jalan menuju kemajuan. Dalam konteks ini, membaca diartikan sebagai bentuk tanggung jawab intelektual.
Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa di tengah derasnya arus informasi, membaca adalah tindakan kecil yang berdampak besar—membentuk nalar, mengasah empati, dan menjaga integritas dalam berbicara.